Studi Banding Pemdes Kedungmaling Dan KSM Keramba Ke Pasuruan

28 Februari 2023
MOCHAMAD NUZULUL ARIFIN
Dibaca 71 Kali
Studi Banding Pemdes Kedungmaling Dan KSM Keramba Ke Pasuruan

Ahad (26/2) siang setelah melaksanakan studi banding ke Jombang, kunjungan lapangan berikutnya adalah ke Pasuruan. Kelompok petani keramba Sungai Sukun Desa Bakalan, Kec. Purwosari, Kab. Pasuruan menjadi sasaran belajar kali ini.

Rombongan studi banding diterima langsung oleh pemuda petani keramba desa dan Mas Apri dari Pak Wali (Pusat Konservasi Iwak Kali). Pak Wali yang dirintis sejak awal tahun 2021 inilah yang menginisiasi para petani keramba yang mayoritas adalah para pemuda. Pak Wali  merupakan binaan dari Yayasan Investasi Sosial Indonesia (YISI), program CSR dari PT. KDM/JTI sejak awal tahun 2021.

Tanpa bantuan pemerintah sama sekali, kini 32 keramba produktif telah berhasil diwujudkan. Hal ini tentu saja cukup menggembirakan. Meski di awal perjuangan cukuplah berat. Budaya sungai sebagai tempat sampah apa saja, pelahan harus dikikis. Pun sampai saat ini.

Setelah mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak termasuk Pemkab. Pasuruan, pelahan tapi pasti para petani keramba mulai dilirik oleh unsur pemerintahan. Termasuk dalam hal ini dari BUMDes Bakalan. Dimana mulai tahun 2023 ini mulai terlibat langsung dalam penyiapan benih nila yang menjadi komoditi utama beserta pakan ikannya.

Dalam keterangannya H. Sugiarto Direktur BUMDes Bangkit Bersama Bakalan menyampaikan bahwa tani keramba ini memiliki potensi yang luar biasa. Oleh karena itu sejak awal tahun 2023 BUMDes terlibat langsung berkolaborasi bersama petani keramba. Sebab bagaimanapun untuk pengembangannya diperlukan modal yang tidak sedikit. Diharapkan dengan tersedianya bibit dan pakan, akan meringankan beban petani dalam hal biaya produksinya.

Selama dua tahun keramba ikan berjalan telah mununjukkan progress positif. Dimana petani bisa menghasilkan sampai dengan 1,8 juta dari sekali panen. Model pembesaran berjenjang dari mulai bibit, diharapkan bisa menghasilkan secara harian. Tidak hanya menunggu panen raya empat bulanan. Oh ya, sungai selain untuk keramba, juga dimanfaatkan untuk pembuatan kincir air. Dimana air dari kincir ini dinaikkan untuk pembibitan di atas.

Dalam kesempatan ini, rombongan juga menyempatkan  untuk memborong beberapa kilogram ikan nila.  Terbukti ikan terlihat gemuk dan segar. Menjaga kualitas ikan dengan menjaga kualitas pakan dan keramba menjadi kunci keberhasilannya. Tak heran khusus untuk pembersihan keramba minimal 2 kali dilakukan tiap harinya.